— Insiden keamanan pada hardware wallet Coldcard semakin membesar. Analisis terbaru dari Galaxy Research memperkirakan total kerugian telah mencapai 1.367 BTC atau sekitar $88,6 juta, melampaui estimasi awal sebesar $70 juta. Serangan yang berlangsung selama 41 menit ini telah menjadi pengingat keras bagi para pengguna Bitcoin tentang risiko self-custody dan pentingnya audit keamanan perangkat keras.
Daftar isi
Poin Utama
- Galaxy Research mengidentifikasi 1.196 alamat yang kehilangan 1.082,65 BTC dalam jendela waktu 41 menit pada 30 Juli 2026.
- Gelombang serangan keempat dilaporkan telah menyedot tambahan 207,7 BTC, membawa total korban menjadi 4.585 alamat.
- Transfer Bitcoin di bawah 1 BTC melonjak ke level tertinggi sejak runtuhnya FTX pada November 2022, dengan 39.600 BTC dipindahkan dalam sehari.
- Coinkite, produsen Coldcard, mengakui bug firmware dan merilis hotfix, namun memperingatkan bahwa seed yang dibuat di firmware rentan tetap berisiko.
- Debat self-custody vs custodial exchange kembali memanas di tengah komunitas crypto.
Analisis On-Chain Ungkap Pola Serangan
Galaxy Research melacak pergerakan Bitcoin antara pukul 01:10 hingga 01:51 UTC pada 30 Juli 2026, di blok 960.183 hingga 960.191. Transaksi-transaksi tersebut menunjukkan pola identik: biaya 30 satoshi per virtual byte dan tidak adanya output kembalianPola ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi jejak serangan on-chain, meskipun diperingatkan bahwa serangan mendatang mungkin tidak mengikuti sidik jari yang sama.
Alex Thorn, Kepala Riset Galaxy Digital, mengonfirmasi bahwa serangan masih berlangsung pada 2 Agustus dan mendesak pengguna Coldcard untuk segera memindahkan dana dari alamat yang dibuat dengan firmware rentan. “Tim kami terus mengidentifikasi alamat korban dan penyerang baru,” ujar Thorn di akun X-nya.
Debat Self-Custody Menggejala
Insiden Coldcard telah memicu diskusi sengit di komunitas crypto. Nick Neuman, CEO Casa, menolak klaim bahwa “self-custody sudah berakhir.” Menurutnya, sifat terdistribusi dari self-custody memberi waktu bagi pengguna untuk bereaksi. Neuman memperkirakan jumlah Bitcoin yang dilindungi melalui self-custody bisa 10 kali lipat lebih besar dari yang dicuri.
Di sisi lain, Eric Balchunas, analis ETF senior di Bloomberg, menyoroti bahwa Bitcoin ETF menawarkan alternatif yang lebih aman dan nyaman bagi banyak pengguna, mengingat sejarah operasional industri ETF yang panjang. Namun, banyak pihak menegaskan bahwa insiden ini adalah kegagalan satu produsen wallet, bukan kegagalan konsep self-custody secara fundamental.
Apa yang Harus Dilakukan Pengguna Coldcard?
Rodolfo Novak, co-founder Coinkite, mengambil tanggung jawab penuh atas bug firmware yang telah ada selama lima tahun tanpa terdeteksi. Perusahaan telah merilis hotfix untuk menghapus jalur fallback perangkat lunak, namun menegaskan bahwa pembaruan ini tidak melindungi seed yang dibuat di firmware rentan.
Rekomendasi utama bagi pengguna:
- Segera pindahkan dana dari seed yang dibuat pada firmware Coldcard sebelum hotfix.
- Buat seed baru pada perangkat yang telah diperbarui.
- Pertimbangkan untuk menggunakan multi-signature atau penyimpanan terdistribusi.
- Rutin memeriksa advisories keamanan dari produsen hardware wallet.
Kesimpulan
Insiden Coldcard menunjukkan bahwa bahkan perangkat keras yang dirancang untuk keamanan tertinggi pun bisa memiliki celah. Bagi para investor crypto di Indonesia, kejadian ini menjadi pelajaran berharga: self-custody memerlukan diligence yang tinggi, dan audit keamanan tidak boleh dianggap remeh. Meski demikian, tidak ada yang salah dengan prinsip self-custody — kesalahan ada pada implementasi, bukan pada filosofinya.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Harga aset kripto sangat volatil. Lakukan riset mandirisebelum membuat keputusan investasi. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul.
